Tags

, , , , , ,

Dalam etika jawa dikenal satu ungkapan yang berbunyi :

Sabda pandhita Ratu, tan kena wola-wali”

Bahwa seorang “Pemimpin” haruslah konsekuen untuk melaksanakan atau mewujudkan apa yang telah diucapkan. Seorang pemimpin yang secara konsekuen selalu bertekad untuk melaksanakan apa yang telah diucapkannya, dalam bahasa Jawa dinyatakan sebagai pemimpin yang mempunyai sifat Bawalaksana. Dalam filsafat Jawa, seorang Raja (dan tentunya demikian pulalah seorang Pemimpin) harus memiliki sifat Bawalaksana disamping sifat-sifat baik lainnya, tercermin dari ungkapan yang sering diucapkan Ki Dalang dalam setiap lakon wayang, “Dene Utamaning nata, berbudi bawalaksana”. (Sifat utama bagi seorang Raja adalah bermurah hati dan teguh memegang janji.)

            Dari dunia perwayangan, bahwa sifat Bawalaksana dianggap mempunyai nilai yang sangat tingi, sehingga ia harus dimenangkan apabila terpaksa berbenturan dengan nilai-nilai lain, termasuk nilai keadilan dan kebenaran. Prinsip Bawalaksana dipaparkan dengan jelas melalui berbagai peristiwa dalam pewayangan, khususnya Wayang Purwa (Mahabharata dan Ramayana), peristiwa yang menggambarkan betapa berat dan besar konsekuensi dari suatu janji yang telah diucapkan, yang sering kali harus ditebus dengan pengorbanan tiada taranya. Dunia pewayangan telah menghasilkan dan menyimpan dengan baik satu nilai filsafat yang disebut Bawalaksana, yang dulu dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa masa lalu. Namun sekarang, masyarakat Jawa masa kini khususnya (dan masyarakat Indonesia pada umumnya) agaknya tidak terlalu menghargai lagi, meskipun juga tidak menolaknya.

            Kasus-kasus dalam pewayangan yang menyangkut konsekuensi pemenuhan janji atau ikrar, (bahkan ada kalanya hanya berupa kata-kata biasa / celetuk yang tidak bersifat janji ataupun ikrar). Ada beberapa contoh Kisah dari pewayangan.

           Salah satu contoh Kisah saat diusirnya Sri Rama, anak tertua diantara empat anak Prabu Dasarata (Rama, Bharata, Laksamana, Satrunaga) dari kerajaan Ayodya menjelang penobatannya sebagai raja menggantikan ayahnya , adalah akibat etika bawalaksana yang harus dijunjung tinggi oleh Prabu Dasarata yang pernah berjanji kepada salah satu istrinya, Dewi Kekeyi (Ibu dari Bharata), bahwa kelak Bharata lah yang akan di angkat sebagai Raja.

            Bukan hanya Prabu Dasarata, juga Sri Rama sendiri memberi contoh Bawalaksana, pada waktu Bharata menyusul Sri Rama ke Hutan Dandaka dan sungguh-sungguh memaksanya agar mau kembali ke Ayodya dan diangkat sebagai Raja, Sri Rama tidak dapat menyanggupi, yang berarti juga sudah berjanji untuk hidup di hutan Dandaka 14 tahun lamanya. Bila Sri Rama memenuhi, hal itu berarti bahwa ia telah mengingkari janji dan bahkan secara tidak langsung menyebabkan Ayahnya pun tidak memenuhi janji kepada Dewi Kekeyi. Pengingkaran janji seorang Raja adalah bencana bagi rakyatnya. Bagi Sri Rama pantang untuk kembali ke Ayodya sebelm masa 14 tahun itu terpenhui.

 lord-rama

            Contoh lain yang sangat baik dapat kita ambil dari lakon Pandhawa Dhadu, dengan rayuan dan tipu daya licik Kurawa berhasil mengajak Prabu Puntadewa untuk bermain dadu, dengan taruhan Kerajaan Amarta dan segala isinya, dan dengan segala akal Sengkuni, maka kalahlah Prabu Puntadewa, yang dengan ikhlas menyerahkan Kerajaan Amarta dengan segala isinya termasuk Dewi Drupadi, permaisuri Amarta, menjadi jarahan Kurawa. Pada saat Dewi Drupadi diperlakukan dengan semena-mena, di hadapan para Kurawa dan Pandawa, tidak ada reaksi dari pihak Pandawa untuk mencegahnya. Bima pun yang biasanya tidak sabaran, melihat itu hanya terdiam karena menyadari bahwa dirinya terikat Janji yang dibuat Prabu Puntadewa, kakaknya, yang harus dipenuhi oleh Pandawa.

 wayang-pandawa_lima

            Kisah Adipati Karna yang tanpa ragu bertempur memihak Kurawa melawan Pandawa, mengapa ia tanpa ragu memilih posisi yang batil dan melawan Pandawa sebagai pihak yang benar dan merupakan saudaranya sendiri ? apakah tekad membalas budi kepada Prabu Duryudana atau ia bersikap sekedar menjalani takdir tanpa ragu-ragu.

 karna_1

            Sikap Karna yang demikian itu sebenarnya terdorong oleh etika Bawalaksana juga. Pada saat masih muda  dan hanya dikenal sebagai anak Adirata, kusir (sais) Kerajaan Astina, ia sangat tersinggung oleh sikap Arjuna yang tidak mau melayani tantangannya, karena dianggap tidak pantas disejajarkan dengan para kesatria, datanglah Duryudana sebagai Dewa penolong dan mengangkatnya sebagai saudara yang berarti setingkat dengan para kesatria. Pada saat itu pula Karna bersumpah untuk senantiasa membela dan mengabdikan dirinya kepada Duryudana. Ia tetap konsekwen memegang janji ini, meskipun di kemudian hari ia mengetahui bahwa Pandawa adalah adik-adiknya sendiri (anak Dewi Kunthi). Posisi Karna terhadap Kurawa mirip dengan posisi Kumbakarna terhadap Rahwana, juga terikat pada etika Bawalaksana. Oleh karena itu, meskipun diberitahu oleh Kresna bahwa ia adalah anak Dewi Kunthi yang berarti  masih saudara seibu dengan Pandawa, Karna tetap teguh berdiri di pihak Kurawa, tanpa ragu-ragu melawan adik-adiknya.

            Demikianlah sekedar contoh tragedi dan suasana dilematik yang harus ditanggung dan dijalani oleh para Raja dan Kesatria dalam memegang Janji dan menjunjung tinggi nila Bawalaksana, sifat Bawalaksana ini begitu dijunjung tinggi oleh para Raja dan Kesatria karena sikap itu memang merupakan condition sine qua non bagi tegaknya wibawa sang Raja dan Kesatria. Begitu seorang Raja dengan mudah mengingkari janjinya, maka jatuhlah wibawa Raja tersebut.           

            Betapa mutlaknya bagi setiap pemimpin untuk memegang teguh kata-kata yang telah diucapkan dan betapa buruk akibat pengingkaran terhadap prinsip Bawalaksana yang sering terdengar melalui ungkapan “ Sabda pandhita Ratu, tan kena wola-wali”. Pemimpin (termasuk para Raja, Kesatria dan Pendeta di jaman dahulu) yang suka mengingkari prinsip ini, misalnya Duryudana (Raja Astina) dan Rahwana (Raja Alengka), bukan saja menjadiberkurang wibawanya, akan tetapi juga menimbulkan malapetaka dan penderitaan yang hebat bagi rakyat yang dipimpinnya.

            Bahwa Duryudana dan Rahwana sering melanggar prinsip Bawalaksana, itu memang tidak aneh, karena kedua Raja tersebut memang merupakan puncak personifikasi kekuatan jahat di Dunia ini. Bukan hanya prinsip Bawalaksana saja yang sering mereka langgar, tetapi boleh dikatakan semua prinsip dan tatanan hidup yang baik pun ditempatkan di bawah  nafsu angkara yang selalu berkobar  di hati mereka. Prinsip, kaidah dan hokum bukanlah bahan pertimbangn dalam melakukan tindakan. Pertimbangan yang berlaku bagi kedua Raja tersebut hanyalah keinginan, kesempatan, dan kekuatan

 duryu

Rahwana-Jatim-01

Bagi kedua Raja tersebut hidup hanyalah pemenuhan keinginan melalui pemupukan kekuatan dan pemanfaatan peluang atau kesempatan, tak peduli bagaimana pandangan orang lain (termasuk dewa-dewa) dan tak peduli pula bagaimana akibatnya terhadap orang lain. Ungkapan Adigan Adigung Adiguna benar-benar pantas untuk menggambarkan watak kedua Raja ini.

Sekarang jaman Raja- raja memang telah berlalu. Tetapi ungkapan “Sabda Pandhita Ratu, (yang tentunya harus kita baca ”sabda ulama dan pemimpin) tan kena wola-wali, tetap dijunjung tinggi dalam etika Jawa. Dan sebenarnya etika Bawalaksana ini memang mengandung nilai yang bersifat Universal. Dimana pun dan kapan pun juga, Bawalaksana ini pasti diakui sebagai sikap yang mengandung nilai yang baik dan perlu dipegang teguh oleh semua orang yang baik, lebih-lebih oleh mereka yang termasuk kategori pemimpin. Hanya saja dalam kenyataannya keteguhan orang untuk bersikap Bawalaksana ini semakin kendor. Banyak para Pemimpin begitu cepat melupakan janjinya kepada yang dipimpinnya. Bahkan karena kata “Bawalaksana” itu sepertinya memang belum mempunyai padanan yang tepat dala bahasa Indonesia, sifat yang luhur itu sering tidak tercantum dalam persyaratan resmi yang harus dipenuhi oleh calon seorang pemimpin, memang ada syarat jujur tetapi Bawalaksana itu lebih luas dari sekedar jujur, ada juga syarat berwibawa tetapi wibawa seseorang itu sebenarnya hanyalah akibat. Wibawa tidak mungkin akan timbul kalau yang bersangkutan tidak memiliki sifat-sifat tertentu antara lain sifat Bawalaksana