Tags

,

1/ Charley Chaplin pelawak terbesar sepanjang abad, ketika sudah menua merasakan teramat sedih. Tidak ada orang yang tertawa lagi dan filmnya terakhir “Monsieur Verdoux” tidak mendapat sambutan hangat. Pada waktu itu, Charley pun menikah dengan Oona O’Neil dan ketika anak Charley Chaplin yang bernama Michael ditanya mengapa ayahnya menikah dengan wanita yang begitu muda (17 tahun saat itu umu Oona O’neil, Chaplin di usia nya yang ke 54 tahun), si anak manjawab :

“Karena ibu ku satu satu nya orang yang masih bisa tertawa kalau ayah melawak”.

2/ Tragedi yang kecil itu membuktikan bahwa harga diri manusia sangat tergantung pada lingkungannya. Seperti professor tanpa mahasiswa, pelawak tanpa penonton, raja tanpa kabinet, dan bintang film tanpa penggemar, seperti ikan di luar air atau pohon jeruk yang ditanam di laut.

3/ Kakek dari teman saya bercerita, dulu mempunyai teman yang pernah menjadi residen di Hindia Belanda. Anak-anak brandal biasa meneriakinya. ” Resyeden, resyeden. “Mereka tidak mempunyai rasa hormat sama sekali untuk orang yang dulu di Nederlands Indie mendapat kedudukan terhormat, diiringi pengawal-pengawal yang dengan asyik memenuhi segala keinginan dari juragan agung itu. Disinni dia raja, di Negeri Keju dia nol besar. Sebagai pegawai tinggi dia merasa sebagai orang hebat, tetapi di Negeri ini dia takut dikejar anak-anak. Sic transit gloria mundi.

4/ CONTOH yang menyedihkan itu menjelaskan, bahwa rasa harga diri tidak saja tergantung pada harga diri kita, tapi terutama dari penghargaan lingkungan. Begitulah dijelaskan bahwa setiap orang mendapat harga diri berhubung dengan lingkungan. Di tengah-tengah pedagang, seniman atau tukang cat, seorang profesor merasa sebagai orang yang tidak mempunyai harga diri sama sekali. Hanya beberapa orang saja rupanya yang mempunyai kekayaan batin begitu besar sehingga dalam lingkungan mana pun juga tetap mempunyai kehormatan dan kewibawaan.

5/ Mungkin tidak ada kebudayan yang menjelaskan ketergantungan harga diri pada lingkunganya dengan lebih baik daripada kebudayaan dunia modern. Dunia aristokrasi diganti dunia meritokrasi. Orang yang paling berjasa mempunyai paling banyak status dan mendapat paling banyak penghormatan. Perlombaan untuk mendapat gelar dan usaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kedudukan membuktikan bahwa sekarang ini harga diri berhubungan erat dengan jasa jasa seseorang bagi lingkungannya.

Harga diri tidak tergantung dari watak kita, melainkan dari lingkungannya.

Akibatnya, kalau orang tidak berada dalam lingkungannya sendiri, maka ia menjadi seperti orang mati di antara yang hidup.

6/ Herbert Mead, Sullivan, dan Peter Berger berpendapat bahwa manusia tidak lain daripada peranan yang dimainkan. ” Displaced persons”, orang yang hidup di luar ligkungan nya sendiri, tidak mempunyai diri karena tidak punya peranan. Mereka mati atau gila. Jiwa kita yang oleh Plato, Aristoteles, dicari dalam diri manusia sendiri, sekarang dicari di luar manusia, yaitu dalam relasinya dengan orang lain. Dia melihat dirinya dalam lingkungannya seperti di muka cermin melihat mukanya dan yakin bahwaa dia seorang diri.

7/ Di Indonesia / Asia, pada umumnya orang tua masih dihargai dan perkataannya asih didengar. Tapi dalam meritokrasi Barat, maka orang yang tua dianggap tidak berjasa “lagi” dan tidak didengar lagi. Mereka disimpan dalam gedung-gedung yang memang lebih mewah daripada penjara, tapi maksudnya sama. Masyarakka tidak berkepentingan lagi dengan orang tua dan dengan segala hormat mereka dilepaskan, ditinggalkan, dan dilupakan. Tak heran banyak orang yang emningal sesudah mendapat pensiun. satu hari mereka sudah tidak perlu lagi pergi ke kantor, mereka sudah tau bahwa hidup mereka sudah berakhir dan tidak ada artinya lagi. Bagai rus di dalam sangkar bergerak tanpa tujuan, begitulah sang pensiunan bergerak dalam rumahnya dan membuat putus asa istrinya yang tidak tahu, bahwa hidup suaminya di luar kantor; toko; ataupun perusahaan sudah tidak ada artinya lagi. Ikan diluar air pasti mati, dan orang yang tidak pernah menjadi lebih daripada hanya seorang pegawai; penjual; atau seniman , tidak bisa hidup lagi sesudah dia diusir dari firdausnya.